Senin, 05 Mei 2008

Entah Mau Apa

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan hampa.
Menyesal, tapi tak tahu karena apa.Kosong, seperti tak memiliki apa-apa.
Ingin mengerjakan sesuatu tapi tak tahu apa.
Hanya termenung di depan meja makan yang tak menyajikan apapun.
Menyebalkan, membosankan, menyedihkan, mengerikan.
Ku tak suka dengan apa yang terjadi, kosong.
Waktu hanya bisa tertawa melihat apa yang kulakukan dengan sia-sia.
Aku ingin berarti.
Entah untuk siapa.
created by Chano's dkhancutz - dinning room - May'04'08 - 8.00AM

Sabtu, 26 April 2008

Dicubit Polisi (Whatttt???)


Rasanya mau ketawa,marah, lucu, emosi, pada saat seorang teman marah-marah menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya 3 hari yang lalu. Entah karena caranya berbicara atau karena ceritanya. Sebut saja namanya Rina, seorang mahasiswi S2 jurusan komunikasi di sebuah universitas negeri ternama di Indonesia. Kejadian itu berlangsung disaat ia akan berangkat ke kampusnya dengan mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba saja ia diberhentikan oleh seorang polisi pada saat ia berhenti di lampu merah.

Mungkin ini memang hari yang kurang menguntungkan baginya. Entah alasan apa yang membuat polisi tersebut memberhentikan Rina, dan sialnya Rina tidak membawa SIM C nya. Yach, bukan tidak membawa, tapi karena ia berulang kali gagal ujian dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal dari pihak yang berwajib. Saat ia bertanya keslahannya apa, Pak Polisi itu tak menjawab, begitu juga saat ia menanyakan namanya, ada saja cara dan gerak Pak Polisi tetrsebut untuk menutupi Name Tag yang ada di dadanya. Dalam hatinya merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Pak Polisi ini. Dan kebetulan cowoknya menghubunginya dengan menyebutkan bahwa seorang tema yang juga seorang intel akan datang untuk membantunya

Sesaat itu juga Rina meminta untuk ditilang di tempat. Mungkin karena ia mendengar percakan Rina di telepon tadi, dan malas untuk berinteraksi dengan para Intel, maka si Pak Polisi tanpa basa basi langsung minta sejumlah rupiah untuk membeli dua bungkus rokok. Karena malas berlama-lama, Rina langsung memberikan selembar uang berwarna biru dan meminta kembaliannya kepada Pak Polisi, tapi yang ada dia diminta Rina untuk langsung membeli rokok tersebut di sebuah warung. Setelah lelah berlari-lari, ia memberikan rokok itu kepada Pak Polisi. Dan saat ia akan berjalan ke arah motornya, tiba-tiba saja tangan Pak Polisi tadi mencubit pipinya, yang ada saat itu juga dia marah tetapi tak dapat berbuat apa-apa lagi karena ia sedang berada di wilayah yang benar2 tak aman.

Yup, ini benar-benar sudah keterlaluan, entah merasa gemas dengan Rina yang memang menggemaskan secara fisik atau alasan apapun, tetapi ini benar-benar sudah di luar batas, ini pelecehan yang tidak dapat di tolerir. Sayangnya Polisi yang seharunya membuat masyarakat merasa selalu aman dan nyaman, justru bertindak sebaliknya. Kalau sudah begini, mau melapor ke siapa yach???


created by chano's dkhancutz@mejamakan

Sabtu, 19 April 2008

belajar untuk membumi


Hari ini tuhan memberikan sebuah pelajaran yang sangat berarti melalui seorang sahabat terdekat.
Sebut saja namanya Indira, ia wanita kelahiran 27 tahun yang lalu. Seorang karyawati di sebuah Perusahaan ternama.
Cukup lama aku mengenalnya, bahkan aku tahu semua mengenai dia. Dan inilah yang memberanikan aku untuk menulis cerita tentangnya.
Seorang wanita dewasa yang cukup menarik, dari keluarga yang cukup berada. Ia selalu hidup berkecukupan. Semua yang ia inginkan selalu dapat diraihnya, entah itu harta, pekerjaan atau kebahagiaan. Yang pasti ia tidak pernah hidup dalam kesulitan.
Tapi semua yang ada di dalam dirinya berubah hampir 90 derajat, yach memang tidak semuanya, karena ia masih hidup layak dan bahagia.
Semua berubah sejak ia ditinggalkan oleh seseorang yang selalu memenuhi kebahagiannya, ia kehilangan pelindungnya, ia kehilangan cintanya...
Berangkat dari perjalananku dengannya pagi ini. Kami menuju sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Pertama kali kupikir kami akan pergi ke sebuah Mall atau tempat-tempat yang memang sangat memanjakan mata para pembelinya (walaupun tidak untuk dompet :)).
Tetapi sangat terkejut saat ia menyebutkan sebuah tempat yang hingga saat ini belum pernah terjamah olehku. Tapi yang aku tahu tempat itu memilki segalanya, mulai dari pakaian, makanan, preman bahkan copet...
Wuih, sekejap aku otakku lemah dan kaki malas melangkah, tapi tidak enak menolak tawarannya.
Akhirnya aku pergi. Tetapi kenapa ia tidak memberhentikan taxi. Yang ada sebuah angkotan kota yang berhenti di depanku. Walhasil kita berangkat dengan penuh keringat.
Dan aku melihat tak ada sedikit kesal atau gerah di wajah Indira, ia justru menikmati perjalanan bahkan belanja di sana. Padahal baju-baju tanpa merek itu tak pernah tersentuh olehnya selama ini.
Yang pasti aku menutup keterherananku hari ini dengan perubahannya adalah saat ia mau berlari ditengah hujan yang mengguyur Jakarta, dan terkena cipratan air genangan yang berwarna coklat sambil memberhentikan bajaj yang melintas di depannya, dan pada saat itu ia menyebutkan sebuah nama Stasiun Kereta.
Benar dugaanku, ia mengajakku untuk pulang menaiki kereta yang gerbongnya tanpa kaca dan tanpa lampu. Aku pun pusing dan mual saat berada di dalamnya.
Dan inilah yang membutaku benar-benar terkagum-kagum akan rahasia Tuhan akan makhluknya, yaitu pada saat kami akan sampai di rumahnya, Indira hanya berkata :
"Terima kasih telah menemani hari ini. Ini benar-benar hari yang menyenangkan".
Dan aku hanya bisa tersenyum melihat wajahnya yang tidak menunjukkan sedikitpun rasa lelah.
Ternyata Tuhan memang memiliki berbagai cara untuk merubah seseorang. Dan kita tidak akan pernah tau kapan kita akan berubah atau dirubah oleh Tuhan.