Sabtu, 19 April 2008

belajar untuk membumi


Hari ini tuhan memberikan sebuah pelajaran yang sangat berarti melalui seorang sahabat terdekat.
Sebut saja namanya Indira, ia wanita kelahiran 27 tahun yang lalu. Seorang karyawati di sebuah Perusahaan ternama.
Cukup lama aku mengenalnya, bahkan aku tahu semua mengenai dia. Dan inilah yang memberanikan aku untuk menulis cerita tentangnya.
Seorang wanita dewasa yang cukup menarik, dari keluarga yang cukup berada. Ia selalu hidup berkecukupan. Semua yang ia inginkan selalu dapat diraihnya, entah itu harta, pekerjaan atau kebahagiaan. Yang pasti ia tidak pernah hidup dalam kesulitan.
Tapi semua yang ada di dalam dirinya berubah hampir 90 derajat, yach memang tidak semuanya, karena ia masih hidup layak dan bahagia.
Semua berubah sejak ia ditinggalkan oleh seseorang yang selalu memenuhi kebahagiannya, ia kehilangan pelindungnya, ia kehilangan cintanya...
Berangkat dari perjalananku dengannya pagi ini. Kami menuju sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Pertama kali kupikir kami akan pergi ke sebuah Mall atau tempat-tempat yang memang sangat memanjakan mata para pembelinya (walaupun tidak untuk dompet :)).
Tetapi sangat terkejut saat ia menyebutkan sebuah tempat yang hingga saat ini belum pernah terjamah olehku. Tapi yang aku tahu tempat itu memilki segalanya, mulai dari pakaian, makanan, preman bahkan copet...
Wuih, sekejap aku otakku lemah dan kaki malas melangkah, tapi tidak enak menolak tawarannya.
Akhirnya aku pergi. Tetapi kenapa ia tidak memberhentikan taxi. Yang ada sebuah angkotan kota yang berhenti di depanku. Walhasil kita berangkat dengan penuh keringat.
Dan aku melihat tak ada sedikit kesal atau gerah di wajah Indira, ia justru menikmati perjalanan bahkan belanja di sana. Padahal baju-baju tanpa merek itu tak pernah tersentuh olehnya selama ini.
Yang pasti aku menutup keterherananku hari ini dengan perubahannya adalah saat ia mau berlari ditengah hujan yang mengguyur Jakarta, dan terkena cipratan air genangan yang berwarna coklat sambil memberhentikan bajaj yang melintas di depannya, dan pada saat itu ia menyebutkan sebuah nama Stasiun Kereta.
Benar dugaanku, ia mengajakku untuk pulang menaiki kereta yang gerbongnya tanpa kaca dan tanpa lampu. Aku pun pusing dan mual saat berada di dalamnya.
Dan inilah yang membutaku benar-benar terkagum-kagum akan rahasia Tuhan akan makhluknya, yaitu pada saat kami akan sampai di rumahnya, Indira hanya berkata :
"Terima kasih telah menemani hari ini. Ini benar-benar hari yang menyenangkan".
Dan aku hanya bisa tersenyum melihat wajahnya yang tidak menunjukkan sedikitpun rasa lelah.
Ternyata Tuhan memang memiliki berbagai cara untuk merubah seseorang. Dan kita tidak akan pernah tau kapan kita akan berubah atau dirubah oleh Tuhan.

Tidak ada komentar: